KabarMu – Kegiatan Pelatihan Manajemen Masjid PCM Sepanjang digelar di Masjid Al-Manar, Ahad, 30 Agustus 2026. Kegiatan ini menghadirkan Ustadz Kusnadi Ikhwani, Ketua Divisi Pembinaan Masjid LPCR-PM PP Muhammadiyah, sebagai pemateri utama dengan membawa gagasan “Revolusi Takmir Masjid”.
Dalam paparannya, Kusnadi menekankan bahwa kemajuan sebuah masjid sangat dipengaruhi oleh cara berpikir orang-orang yang mengelolanya. Karena itu, perubahan masjid perlu dimulai dari perubahan mindset takmir, dari sekadar menjalankan rutinitas menuju keberanian membaca kebutuhan jamaah, melakukan terobosan, dan menghadirkan program-program yang relevan.
Menurutnya, masjid tidak cukup hanya dikelola agar kegiatan rutin tetap berjalan. Takmir perlu memiliki visi untuk membawa masjid terus bertumbuh dan menjadi pusat pembinaan umat yang mampu menjawab perubahan zaman.
“Masjid tidak boleh hanya berjalan apa adanya. Takmir harus berani berubah, membuat terobosan, dan terus berinovasi sesuai kebutuhan umat,” pesan Kusnadi.
Ia mengingatkan bahwa memakmurkan masjid bukan semata-mata mengurus bangunan, kebersihan, maupun memastikan kegiatan terselenggara. Lebih dari itu, takmir memiliki tanggung jawab membangun jamaah, menghidupkan dakwah, membuka ruang partisipasi, serta menghadirkan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat.
Baca Juga: Dr. Badarman: Kaderisasi dan Integritas Kunci Pengelolaan Masjid Profesional
Semangat tersebut sejalan dengan pesan QS At-Taubah ayat 18 tentang orang-orang yang memakmurkan masjid Allah. Kusnadi menempatkan ayat tersebut sebagai landasan penting bahwa menjadi pemakmur masjid merupakan amanah besar yang membutuhkan keimanan sekaligus kesungguhan dalam bergerak.
Takmir Harus Berani Membuat Terobosan
Salah satu fokus yang ditekankan Kusnadi adalah pentingnya menghadirkan takmir yang progresif dan berani melakukan terobosan. Pengurus masjid perlu keluar dari pola pengelolaan yang sekadar mengulang kegiatan dari tahun ke tahun tanpa membaca perkembangan jamaah.
Terobosan tidak selalu berarti membuat program besar atau membutuhkan anggaran yang besar. Inovasi dapat dimulai dari kemampuan takmir melihat persoalan di sekitarnya: siapa yang belum tersentuh masjid, apa yang dibutuhkan jamaah, potensi apa yang belum diberdayakan, dan siapa saja yang dapat diajak bergerak bersama.
Dengan cara pandang tersebut, program masjid tidak berhenti pada pertanyaan “tahun lalu kegiatannya apa?”, tetapi berkembang menjadi “apa yang saat ini dibutuhkan jamaah dan apa yang bisa dilakukan masjid?”
Beri Anak Muda Ruang untuk Mengambil Peran
Kusnadi juga menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda. Anak muda, menurutnya, tidak cukup hanya diundang datang mengikuti kegiatan. Mereka perlu diberikan ruang, peran, kepercayaan, dan pendampingan agar tumbuh rasa memiliki terhadap masjid.
Ia membagikan pengalaman pengelolaan Masjid Raya Al-Falah Sragen, khususnya dalam membuka ruang kerelawanan bagi pelajar dan mahasiswa. Melalui keterlibatan langsung dalam pelayanan jamaah, anak-anak muda tidak hanya membantu pekerjaan teknis, tetapi sekaligus mendapatkan ruang pembinaan keislaman, kepemimpinan, dan pengalaman berorganisasi.
“Jangan hanya menyuruh anak muda datang ke masjid. Libatkan mereka, beri peran, beri kepercayaan, dan dampingi mereka. Dari situ akan lahir kader-kader terbaik umat,” jelasnya.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa regenerasi masjid tidak cukup dilakukan melalui ajakan. Kaderisasi tumbuh melalui pengalaman keterlibatan. Ketika anak muda mendapatkan kesempatan untuk mencoba, berkarya, bahkan belajar dari kesalahan, masjid dapat menjadi ruang tumbuh yang dekat dengan kehidupan mereka.
Dari Pengelola Menjadi Penggerak Perubahan
Melalui gagasan Revolusi Takmir Masjid, Kusnadi mendorong peserta Pelatihan Manajemen Masjid PCM Sepanjang untuk melihat kembali peran takmir. Takmir bukan hanya pihak yang memastikan masjid tetap berjalan, tetapi juga penggerak yang membaca perubahan, menghubungkan potensi jamaah, dan melahirkan terobosan-terobosan baru.
Kreativitas dan kemampuan manajerial tersebut tetap harus berpijak pada niat yang lurus. Kusnadi mengingatkan bahwa setiap ikhtiar memakmurkan masjid pada akhirnya membutuhkan ketulusan dan tawakal kepada Allah.
“Kalau niatnya baik untuk agama Allah, pasti ada jalan. Allah akan mencukupkan rezeki orang yang bertawakal kepada-Nya dan memberikan pertolongan dari arah yang tidak disangka-sangka,” tuturnya.
Pelatihan ini diharapkan mendorong para takmir di lingkungan PCM Sepanjang untuk tidak berhenti sebagai yang sudah berjalan, tetapi bertumbuh menjadi penggerak masjid yang adaptif, kreatif, berani membuat terobosan, serta mampu mengajak semakin banyak jamaah mengambil bagian dalam memakmurkan masjid.




