KabarMu — Perjalanan kader terkadang membawa seseorang jauh dari tempat ia tumbuh, tetapi selalu ada ruang untuk kembali menengok akar perjalanan. Momen itulah yang dirasakan Dafa Isandi Ananto, kader muda Muhammadiyah yang kini aktif di berbagai tingkatan organisasi otonom dan persyarikatan di Yogyakarta.
Dafa saat ini aktif sebagai struktural DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Daerah Istimewa Yogyakarta, PC Pemuda Muhammadiyah Ngaglik, serta turut berkhidmat di Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Di tengah aktivitasnya tersebut, Dafa tetap menekuni dunia akademik. Pemuda yang memilih konsentrasi keilmuan di bidang humaniora ini tengah menempuh pendidikan Magister Antropologi di Universitas Gadjah Mada (UGM).
Kesempatan mengikuti Baitul Arqam Madya Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur sejak Jumat, 28 Agustus 2026, membawanya kembali ke Jawa Timur. Di sela agenda tersebut, Dafa menyempatkan diri melakukan napak tilas ke Taman Pondok Jati, Geluran, tempat ia pernah menghabiskan sebagian masa kecilnya.
Alumni SD Mumtaz Sepanjang tersebut mengunjungi kembali rumah masa kecilnya sekaligus bersilaturahim ke Masjid Al-Da’wah Geluran, yang kini berkembang menjadi salah satu pusat aktivitas dakwah Muhammadiyah di wilayah Geluran.
Kembali dan Menemukan Geluran yang Berubah
Ada kesan tersendiri ketika Dafa kembali ke Geluran. Pada masa ia menempuh pendidikan dasar dan menengah, Masjid Al-Da’wah belum seperti yang dikenal hari ini. Masjid tersebut masih berada dalam perjalanan awal pembangunan dan pengembangan dakwahnya, sehingga saat itu dirinya belum banyak berkesempatan berinteraksi dengan aktivitas masjid.

Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, ia menemukan wajah yang berbeda. Muhammadiyah di Geluran terus tumbuh dengan berbagai aktivitas keagamaan, pendidikan, sosial, pemberdayaan, serta ruang keterlibatan bagi generasi muda.
“Dulu saya tumbuh di lingkungan ini ketika Masjid Al-Da’wah masih dalam proses pembangunan awal. Ketika kembali hari ini, saya bersyukur melihat Muhammadiyah di Geluran semakin berkembang dan masjid mampu menghadirkan banyak layanan serta manfaat bagi masyarakat.” Ungkap Dafa Isandi Ananto.
Silaturahim berlangsung di Masjid Al-Da’wah Geluran pada Ahad, 30 Agustus 2026. Dafa diterima oleh Ketua Takmir Masjid Al-Da’wah Geluran, Hasnan Rizal, bersama sejumlah pemuda dan penggerak masjid.
Pertemuan berlangsung cair dan penuh keakraban. Tidak sekadar bernostalgia, perjumpaan tersebut menjadi ruang bertukar pengalaman mengenai dinamika kaderisasi, pemberdayaan masyarakat, gerakan kepemudaan, hingga perkembangan dakwah Muhammadiyah di tingkat akar rumput.
Dafa turut berbagi pengalamannya selama beraktivitas di persyarikatan dan ortom di Yogyakarta. Sebaliknya, penggerak Masjid Al-Da’wah berbagi perjalanan Muhammadiyah Geluran dalam membangun masjid sebagai ruang ibadah sekaligus pusat pelayanan dan pemberdayaan masyarakat.
Silaturahim yang Mempertemukan Jejak dan Gerakan
Ketua Takmir Masjid Al-Da’wah Geluran, Hasnan Rizal, menyambut baik silaturahim tersebut. Menurutnya, perjumpaan antarkader lintas daerah dan generasi penting untuk membuka ruang belajar sekaligus memperluas jejaring gerakan.
“Kami senang ketika ada kader muda yang pernah tumbuh di Geluran kemudian kembali membawa cerita, pengalaman, dan perspektif baru. Kader boleh melangkah jauh ke mana pun, tetapi hubungan dengan akar dan lingkungan tempat ia pernah tumbuh jangan sampai terputus.” kesan Rizal.
Pertemuan tersebut juga menjadi refleksi bahwa proses kaderisasi Muhammadiyah tidak selalu berlangsung dalam satu tempat. Seseorang dapat tumbuh di satu daerah, belajar di daerah lain, berproses di berbagai tingkatan organisasi, lalu kembali membawa pengalaman tersebut untuk saling menguatkan.
Bagi Masjid Al-Da’wah Geluran, silaturahim semacam ini sekaligus menjadi bagian dari upaya membuka masjid sebagai ruang temu lintas generasi dan lintas pengalaman. Masjid tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya kegiatan keagamaan, tetapi juga ruang bertemunya gagasan, jejaring, kader, dan berbagai ikhtiar untuk menghadirkan kemaslahatan di tengah masyarakat.
Dari Geluran menuju Yogyakarta, dari masa kecil menuju perjalanan kaderisasi, perjumpaan singkat tersebut menghadirkan satu pesan sederhana: perjalanan boleh membawa kader ke banyak tempat, tetapi silaturahim selalu menyediakan jalan untuk kembali kepada akar gerakan.


