Simpan Sekarang Kembali

Apa Muhammadiyah Merayakan Maulid Nabi? Ini Penjelasan Majelis Tarjih

Apa muhammadiyah merayakan maulid nabi ini penjelasan majelis tarjih

Maulid Nabi Muhammad SAW yang diperingati setiap 12 Rabiul Awal menjadi tradisi besar di banyak negeri muslim, termasuk Indonesia. Namun, sering muncul pertanyaan: Apa Muhammadiyah merayakan Maulid Nabi? Untuk menjawab hal ini, Majelis Tarjih Muhammadiyah memberikan penjelasan yang cukup jelas melalui berbagai fatwa dan tulisan resmi.

Muhammadiyah dan Dalil tentang Maulid Nabi

Dalam buku Tanya Jawab Agama terbitan Suara Muhammadiyah Jilid IV, Cetakan Ketiga, halaman 271-274, serta Majalah Suara Muhammadiyah No. 12 Tahun Ke-90 (16-30 Juni 2005) dan Majalah Suara Muhammadiyah No. 1 Tahun Ke-93 (1-15 Januari 2008), ditegaskan bahwa tidak ada dalil perintah maupun larangan untuk menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi SAW.

Artinya, hukum memperingati Maulid Nabi termasuk perkara ijtihadiyah. Tidak ada kewajiban untuk melaksanakannya, namun juga tidak ada larangan. Muhammadiyah menekankan bahwa jika masyarakat muslim menilai penting menyelenggarakannya, maka harus dijalankan dengan memperhatikan syariat Islam dan menjauhi hal-hal yang dilarang.

Apa yang Dilarang dalam Peringatan Maulid Nabi?

Majelis Tarjih menegaskan agar perayaan Maulid tidak mengandung bid’ah, syirik, atau pengagungan berlebihan terhadap Nabi Muhammad SAW.

Nabi sendiri pernah mengingatkan dalam hadis:

عَنْ عُمَرَ يَقُوْلُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ. [رواه البخاري ومسلم]

Artinya: “Janganlah kamu memberi penghormatan kepada saya secara berlebihan sebagaimana orang Nasrani memberi penghormatan kepada Isa putra Maryam. Saya hanya seorang hamba Allah, maka katakan saja hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Karena itu, perayaan Maulid tidak boleh diisi dengan ritual yang tidak memiliki dasar dalil, seperti bacaan-bacaan yang tidak jelas sumbernya, atau tindakan yang menyerupai pemujaan.

Prinsip Kemaslahatan dalam Peringatan Maulid

Bagi Muhammadiyah, jika Maulid Nabi diselenggarakan, maka tujuan utamanya harus demi kemaslahatan umat. Artinya, acara Maulid harus membawa manfaat bagi dakwah Islam, menumbuhkan iman dan takwa, serta meneguhkan cinta kepada Nabi dengan meneladani akhlaknya.

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam QS. Al-Ahzab ayat 21:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً

Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. al-Ahzab: 21).

Bentuk pelaksanaan yang dianjurkan misalnya dengan pengajian, kajian keteladanan Nabi, tabligh akbar, atau kegiatan sosial.

Bagaimana Muhammadiyah Mengisi Maulid Nabi?

Menurut keterangan di Majalah Suara Muhammadiyah No. 23 Tahun 2009, serta pernyataan tokoh Muhammadiyah, peringatan Maulid Nabi di Muhammadiyah lebih menekankan pada dakwah, tabligh, dan kegiatan sosial.

Bagaimana muhammadiyah mengisi maulid nabi

Di berbagai negara, cara memperingati Maulid Nabi berbeda-beda. Ada yang dengan rebana, pembagian makanan, hingga ceramah. Namun Muhammadiyah cenderung mengisinya dengan acara yang sederhana dan bermanfaat, seperti:

  • Pengajian dan tabligh untuk meneladani akhlak Nabi.

  • Kegiatan sosial berupa santunan, pengobatan gratis, atau pembagian makanan.

  • Menekankan penerapan akhlak Nabi dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini ditegaskan pula dengan pesan agar umat Islam menghindari praktik yang merusak akidah, seperti mensucikan jimat, mengunjungi kuburan keramat, atau praktik sihir, yang jelas tidak dikenal dalam ajaran Muhammadiyah.

Muhammadiyah Tidak Melarang Maulid, Tapi Menekankan Substansi

Jadi, menjawab pertanyaan “Apa Muhammadiyah merayakan Maulid Nabi?” maka jawabannya: Muhammadiyah tidak memiliki tradisi merayakan Maulid Nabi dengan seremoni khusus, tetapi juga tidak melarangnya.

Peringatan Maulid diperbolehkan sepanjang dilandasi dengan semangat meneladani Rasulullah SAW, menghindari praktik yang bertentangan dengan syariat, serta mengutamakan kemaslahatan umat.

Dengan demikian, Maulid Nabi dalam perspektif Muhammadiyah adalah momentum untuk mencintai Nabi Muhammad SAW dengan meneladani akhlaknya, bukan sekadar seremonial.

Sumber:

  • Buku Tanya Jawab Agama Suara Muhammadiyah Jilid IV, Cetakan Ketiga, hlm. 271-274

  • Majalah Suara Muhammadiyah No. 12 Tahun Ke-90 (16-30 Juni 2005)

  • Majalah Suara Muhammadiyah No. 1 Tahun Ke-93 (1-15 Januari 2008)

  • Majalah Suara Muhammadiyah No. 23 Tahun 2009

FAQ: Apa Muhammadiyah Merayakan Maulid Nabi?

1. Apakah Muhammadiyah merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW?

Muhammadiyah tidak memiliki tradisi khusus merayakan Maulid Nabi, tetapi juga tidak melarangnya. Peringatan Maulid Nabi dipandang sebagai perkara ijtihadiyah, sehingga boleh dilakukan selama sesuai syariat.

2. Apa hukum memperingati Maulid Nabi menurut Muhammadiyah?

Majelis Tarjih menegaskan tidak ada dalil yang secara langsung memerintahkan atau melarang peringatan Maulid Nabi. Karena itu hukumnya mubah (boleh), selama tidak mengandung hal-hal yang bertentangan dengan Islam.

3. Apa yang dilarang dalam perayaan Maulid Nabi menurut Muhammadiyah?

Yang dilarang adalah perbuatan bid’ah, syirik, atau pemujaan berlebihan kepada Nabi Muhammad SAW. Contohnya membaca wirid atau bacaan yang tidak jelas sumbernya, serta praktik seperti menyucikan jimat atau mengunjungi kuburan keramat.

4. Bagaimana bentuk peringatan Maulid Nabi yang dianjurkan Muhammadiyah?

Jika diselenggarakan, peringatan Maulid sebaiknya berupa kegiatan yang bermanfaat, seperti pengajian, tabligh akbar, kajian keteladanan Nabi, kegiatan sosial, santunan, atau pengobatan gratis.

5. Apa tujuan utama memperingati Maulid Nabi menurut Muhammadiyah?

Tujuannya adalah menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW dengan meneladani akhlaknya, memperkuat iman dan takwa, serta menjadikan perayaan sebagai sarana dakwah dan kemaslahatan umat.

6. Apakah ada dalil yang mendukung pandangan Muhammadiyah tentang Maulid Nabi?

Ya. QS. Al-Ahzab (33): 21 menegaskan bahwa Rasulullah adalah teladan terbaik bagi umat Islam. Hadis riwayat Bukhari dan Muslim juga melarang pemujaan berlebihan kepada Nabi sebagaimana Nasrani terhadap Isa.

7. Apakah Muhammadiyah melarang umat Islam merayakan Maulid Nabi?

Tidak. Muhammadiyah tidak melarang umat Islam merayakan Maulid Nabi, selama pelaksanaannya tidak bertentangan dengan syariat Islam dan justru menghadirkan manfaat.

8. Bagaimana Muhammadiyah biasanya mengisi momentum Maulid Nabi?

Alih-alih seremoni besar, Muhammadiyah biasanya mengisi Maulid Nabi dengan tabligh, dakwah, pengajian, serta aksi sosial seperti santunan dan layanan kesehatan gratis.

Share: