KabarMu – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Rabithah Alam Islami, Sheikh Mohammed Al-Issa, menerima kunjungan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir beserta rombongan di kantor Rabithah Alam Islami, Riyadh, Senin (1/12). Pertemuan ini menjadi momentum penting yang menegaskan hubungan erat kedua lembaga dalam memajukan dakwah Islam di tingkat global.
Dalam dialog yang berlangsung hangat, Sheikh Mohammed Al-Issa menyampaikan apresiasi mendalam atas kiprah Muhammadiyah yang selama ini dikenal konsisten dalam pembinaan akidah dan akhlak umat, serta kemajuan di berbagai bidang muamalah seperti pendidikan, kesehatan, sosial, dan ekonomi.
“Muhammadiyah adalah organisasi Islam yang besar, dengan usaha-usaha dakwah yang besar pula, berasal dari negeri Muslim terbesar. Indonesia sendiri merupakan negeri yang besar dan memiliki peran penting dalam dunia Islam,” tegasnya.
Sheikh Al-Issa juga menyinggung anugerah Zayed Award yang diterima Muhammadiyah pada tahun 2024. Menurutnya, penghargaan tersebut merupakan bentuk pengakuan dunia atas kontribusi besar Muhammadiyah, tidak hanya di tingkat nasional, namun juga global.
Lebih jauh, Sekjen Rabithah Alam Islami menegaskan dukungan penuh terhadap upaya Muhammadiyah dalam memperluas pemahaman Islam wasathiyah (moderat), terutama di tengah persoalan global seperti meningkatnya fenomena Islamofobia.
“Kami terus mendorong dan mendukung peran Muhammadiyah dalam menyebarkan nilai-nilai Islam wasathiyah di tingkat global, sebagai respons atas berbagai tantangan dan kesalahpahaman terhadap Islam,” ujarnya.
Penguatan Moderasi Beragama dan Internasionalisasi Gerakan Muhammadiyah
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan apresiasi atas komitmen Rabithah Alam Islami dalam menguatkan ukhuwah Islamiyah serta mempromosikan moderasi Islam di berbagai kawasan dunia.
Haedar memaparkan berbagai usaha Muhammadiyah di bidang keagamaan, pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, hingga internasionalisasi gerakan yang terus dikembangkan.
“Kami berharap kerja sama erat antara Muhammadiyah dan Rabithah Alam Islami dapat terus ditingkatkan dalam menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks,” ungkapnya.
Terkait isu Islamofobia, Haedar menjelaskan bahwa Muhammadiyah menempuh pendekatan kultural dan edukatif untuk menampilkan wajah Islam sebagai agama yang membawa kedamaian, kemajuan, dan rahmat bagi seluruh alam.
Ia mencontohkan langkah nyata Muhammadiyah melalui pendirian lembaga pendidikan modern dan inklusif, seperti Muhammadiyah Australia College di Melbourne, Australia. Kehadiran sekolah ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai Islam berkemajuan dapat tumbuh di lingkungan masyarakat modern yang plural, demokratis, dan menjunjung tinggi hak asasi manusia.
“Islam bukan agama yang mengancam siapa pun, dan bukan pula agama yang antikemajuan. Muhammadiyah menghadirkan Islam berkemajuan yang berlandaskan tauhid, rujukan pada Al-Qur’an dan Sunah, menghidupkan tajdid dan ijtihad, mengembangkan wasathiyah, serta mewujudkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin,” pungkas Haedar.
Ringkas: Apa itu Rabithah Alam Islami?
Rabithah Alam Islami (Muslim World League) adalah organisasi non-pemerintah internasional yang berbasis di Makkah, Arab Saudi, didirikan pada tahun 1962. Lembaga ini berfokus pada:
-
Penguatan ukhuwah Islamiyah antarnegara Muslim
-
Diplomasi kemanusiaan dan perdamaian
-
Penyebaran pemahaman Islam wasathiyah atau moderat
-
Melawan ekstremisme dan Islamofobia
-
Kerja sama global dalam pengembangan pendidikan, dialog antaragama, dan isu kemanusiaan
Rabithah dipandang sebagai salah satu lembaga Islam paling berpengaruh di dunia dalam upaya mempromosikan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin di tingkat internasional.


