Muhammadiyah lahir pada 1912 dari sebuah keberanian: keberanian untuk membaca realitas, mengoreksi cara umat memahami dan mengamalkan Islam, lalu menghadirkan jalan baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan zaman.
Karena itu, ketika hari ini muncul istilah Reinventing Muhammadiyah, pertanyaan yang layak diajukan bukanlah apakah Muhammadiyah perlu berubah, melainkan apakah sebuah gerakan pembaruan masih memiliki keberanian untuk terus membarui dirinya sendiri.
Pertanyaan itu menjadi penting ketika dunia berubah jauh lebih cepat daripada sebelumnya. Teknologi digital, kecerdasan artifisial, perubahan demografi, krisis lingkungan, disinformasi, perubahan pola pendidikan, hingga dinamika sosial-politik menghadirkan persoalan yang tidak selalu dapat dijawab dengan cara kerja masa lalu.
Di titik inilah buku Reinventing Muhammadiyah: Desakan Pembaruan Gerakan Pembaharuan menjadi menarik untuk dibaca. Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan tentang Muhammadiyah. Ia dapat dibaca sebagai ajakan untuk melakukan refleksi dari dalam: melihat kembali bagaimana gerakan dirancang, dijalankan, dikaderkan, dikelola, dan dievaluasi.
Pembaruan Tidak Boleh Berhenti Menjadi Slogan
Ada risiko yang sering dihadapi organisasi besar: gagasan yang dahulu revolusioner perlahan berubah menjadi rutinitas.
Pembaruan dapat menjadi slogan. Kemajuan dapat berubah menjadi jargon. Bahkan istilah Islam Berkemajuan berpotensi kehilangan daya gugah apabila tidak diterjemahkan menjadi keberanian untuk memperbaiki cara kerja.
Padahal, ruh Muhammadiyah sejak awal justru terletak pada kemampuan membaca perubahan.
Maka, reinventing bukan berarti meninggalkan identitas. Bukan pula mengganti fondasi ideologi dengan sesuatu yang baru. Sebaliknya, reinventing adalah upaya menemukan kembali energi pembaruan agar prinsip yang sama dapat menjawab persoalan yang berbeda.
Dunia berubah. Cara manusia belajar berubah. Cara orang memperoleh informasi berubah. Cara generasi muda membangun relasi berubah. Cara masyarakat bekerja, berkomunikasi, berdonasi, berorganisasi, bahkan memahami otoritas keagamaan juga berubah.
Jika cara kerja tidak ikut dievaluasi, ada kemungkinan sebuah gerakan tetap memiliki nama besar, tetapi semakin jauh dari persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Seratus Lebih Suara dalam Satu Buku
Salah satu hal menarik dari buku ini adalah keberagaman penulisnya.
Lebih dari seratus kader dengan latar belakang, pengalaman, wilayah, generasi, dan bidang perhatian yang berbeda ikut menyumbangkan gagasan. Ada yang berbicara tentang organisasi, kaderisasi, pendidikan, ekonomi, politik, lingkungan, literasi, kebijakan publik, hingga kesejahteraan kader.
Keragaman itu penting.
Sebab Muhammadiyah terlalu besar untuk hanya dibaca dari satu sudut pandang. Persyarikatan ini memiliki sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, lembaga sosial, komunitas, masjid, organisasi otonom, pusat kajian, dan berbagai bentuk Amal Usaha Muhammadiyah.
Masing-masing memiliki persoalan dan pengalaman yang berbeda.
Karena itu, pembaruan tidak seharusnya lahir hanya dari satu meja rapat. Ia membutuhkan percakapan lintas bidang dan lintas generasi.
Buku ini menarik justru karena memperlihatkan bahwa banyak kader memiliki kegelisahan yang sama: bagaimana membuat Muhammadiyah tetap relevan tanpa kehilangan jati dirinya.
Perbedaan gagasan dalam konteks ini bukan ancaman. Justru ia dapat menjadi energi intelektual.
Gerakan yang sehat tidak hanya membutuhkan orang-orang yang mampu mengatakan “setuju”, tetapi juga kader yang berani bertanya, mengkritik, menguji, dan menawarkan alternatif.
Dari Kritik Menuju Transformasi
Kritik terhadap organisasi sering kali dianggap sebagai bentuk ketidaksetiaan. Padahal, kritik yang lahir dari kepedulian dapat menjadi salah satu bentuk kecintaan yang paling produktif.
Reinventing Muhammadiyah membawa semangat semacam itu.
Kritik terhadap tata kelola, kaderisasi, pendidikan, ekonomi, maupun berbagai aspek gerakan tidak harus dipahami sebagai upaya melemahkan Persyarikatan. Kritik justru dapat menjadi cermin agar organisasi mengetahui bagian mana yang masih kuat dan bagian mana yang membutuhkan pembaruan.
Yang lebih penting, kritik tidak berhenti pada keluhan.
Ia harus bergerak menjadi gagasan.
Gagasan kemudian harus diterjemahkan menjadi eksperimen, kebijakan, program, dan cara kerja baru. Dari sana muncul evaluasi kembali.
Siklus semacam inilah yang membuat pembaruan menjadi proses yang hidup.
Pembaruan Juga Harus Ramah terhadap Masa Depan
Salah satu pesan penting yang terasa dalam buku ini adalah bahwa pembaruan Muhammadiyah tidak dapat dipisahkan dari persoalan yang sedang dihadapi masyarakat luas.
Misalnya, isu lingkungan.
Kehadiran Kader Hijau Muhammadiyah dalam jejaring buku ini menunjukkan bahwa pembicaraan tentang kemajuan tidak cukup hanya berbicara tentang pertumbuhan lembaga dan jumlah Amal Usaha.
Kemajuan juga menyangkut bagaimana sekolah, kampus, masjid, rumah sakit, dan komunitas Muhammadiyah memperlakukan lingkungan.
Begitu pula dengan literasi.
Kehadiran Serikat Taman Pustaka Muhammadiyah mengingatkan bahwa gerakan pembaruan membutuhkan masyarakat yang membaca. Sebab sulit membangun tradisi intelektual apabila budaya membaca, menulis, berdiskusi, dan mengembangkan pengetahuan tidak menjadi bagian penting dari kehidupan Persyarikatan.
Pada saat yang sama, perkembangan kecerdasan artifisial membawa tantangan baru.
AI bukan sekadar persoalan teknologi. Ia menyentuh pendidikan, pekerjaan, etika, dakwah, literasi, tata kelola informasi, dan masa depan generasi muda.
Pertanyaannya bukan sekadar apakah Muhammadiyah menggunakan teknologi baru, tetapi apakah Muhammadiyah mampu ikut membentuk arah perubahan tersebut.
Muhammadiyah Membutuhkan Pemahat, Bukan Sekadar Penjaga
Organisasi besar tentu membutuhkan tradisi dan kesinambungan. Tetapi tradisi tidak boleh berubah menjadi alasan untuk mempertahankan semua hal sebagaimana adanya.
Ada perbedaan antara menjaga prinsip dan mempertahankan kebiasaan.
Prinsip perlu dijaga. Kebiasaan perlu diuji.
Struktur organisasi, sistem kaderisasi, model pendidikan, pola komunikasi, pemanfaatan data, tata kelola Amal Usaha, hingga cara menyapa generasi muda adalah bagian-bagian yang semestinya terbuka terhadap evaluasi.
Karena itu, Muhammadiyah mungkin tidak membutuhkan lebih banyak orang yang hanya bertugas menjaga bentuk lama.
Muhammadiyah membutuhkan pemahat: mereka yang memahami fondasi, tetapi juga berani memperbaiki bentuk agar bangunan tetap dapat digunakan oleh generasi berikutnya.
Proses tersebut tentu tidak selalu nyaman.
Pembaruan hampir selalu menghadirkan perdebatan. Ada kekhawatiran. Ada resistensi. Ada kemungkinan salah langkah. Namun organisasi yang sama sekali tidak bersedia mengambil risiko perubahan justru menghadapi risiko yang lebih besar: kehilangan relevansi secara perlahan.
Reinventing sebagai Cara Menjaga Identitas
Pada akhirnya, reinventing bukanlah upaya untuk menjadikan Muhammadiyah sesuatu yang bukan dirinya.
Justru sebaliknya.
Ia adalah usaha untuk memastikan bahwa nilai-nilai dasar Muhammadiyah tetap hidup dalam konteks yang terus berubah.
Semangat tajdid harus menemukan bentuknya di era digital. Pendidikan berkemajuan harus menjawab kebutuhan generasi baru. Dakwah harus mampu hadir di ruang-ruang baru. Filantropi harus semakin berbasis data dan dampak. Kaderisasi harus melahirkan manusia yang mampu berpikir lintas disiplin. Amal Usaha harus terus memperbaiki kualitas dan manfaatnya. Dan seluruh gerakan harus semakin dekat dengan persoalan nyata masyarakat.
Dengan demikian, pertanyaan besar Reinventing Muhammadiyah bukan sekadar “apa yang harus diubah?”
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:
Apa yang harus tetap kita jaga, apa yang harus kita tinggalkan, dan apa yang harus kita ciptakan agar semangat pembaruan Muhammadiyah tetap hidup pada generasi berikutnya?
Buku ini tidak harus menjadi jawaban final.
Justru mungkin nilai terbesarnya terletak pada kemampuannya membuka percakapan.
Sebab Muhammadiyah tidak pernah selesai.
Ia adalah gerakan yang terus berjalan, membaca zaman, mengoreksi diri, dan mencari bentuk pengabdian yang paling relevan bagi umat dan bangsa.
Maka Reinventing Muhammadiyah dapat dibaca bukan sebagai ajakan untuk menjadi organisasi yang berbeda, tetapi sebagai pengingat agar Muhammadiyah tetap menjadi dirinya sendiri: gerakan pembaruan yang tidak pernah berhenti memperbarui cara menghadirkan Islam yang berkemajuan.
Dan setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk memastikan api pembaruan itu tidak hanya diwariskan, tetapi juga dihidupkan kembali.
Akses dan Baca di Google Book – Reinventing Muhammadiyah







