KabarMu – Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mengajak seluruh elemen dan institusi Muhammadiyah untuk bergerak bersama menggalang bantuan bagi masyarakat terdampak bencana banjir di Aceh, Sumatra Barat (Sumbar), dan Sumatra Utara (Sumut). Ajakan ini menegaskan bahwa solidaritas kemanusiaan tidak hanya menjadi tanggung jawab masjid, tetapi seluruh amal usaha dan organisasi Muhammadiyah secara menyeluruh.
Hal tersebut disampaikan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, pada Sabtu (13/12) di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Ia menegaskan bahwa penggalangan donasi perlu dilakukan secara lebih luas dengan melibatkan seluruh institusi Muhammadiyah, termasuk perguruan tinggi, lembaga, dan ortom.
“Semuanya (institusi Muhammadiyah) sehingga nanti untuk Aceh, Sumatra Barat, Sumatra Utara dan di tempat lain. Sebagaimana edaran PP Muhammadiyah,” pesan Haedar.
Haedar menyampaikan bahwa saat ini sudah ada beberapa Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA) yang mulai menggalang donasi sebagai bentuk respons cepat terhadap bencana yang terjadi. Ia menilai langkah tersebut perlu diperluas agar partisipasi publik semakin besar dan dampak bantuan semakin dirasakan oleh para penyintas.
Sebelumnya, PP Muhammadiyah telah mengeluarkan edaran kepada Masjid Muhammadiyah untuk menyalurkan infak salat Jumat bagi korban bencana di Aceh, Sumbar, dan Sumut. Program ini dikemas dalam gerakan “Infak Salat Jumat untuk Sumatra” yang dilaksanakan pada 12, 19, dan 26 Desember 2025, melalui Lazismu dan Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) Muhammadiyah.
Namun demikian, Haedar menekankan pentingnya membuka ruang partisipasi bagi kelompok masyarakat lain yang tidak terjangkau oleh mekanisme infak salat Jumat.
“Tapi kan ibu-ibu tidak salat Jumat. Nah, yang tidak salat Jumat di tempat-tempat lain untuk berbagi,” kata Haedar.
Dalam konteks penanganan bencana, Muhammadiyah melalui Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) bersama majelis, lembaga, dan organisasi otonom telah menyusun tahapan penanganan bencana banjir di Aceh, Sumut, dan Sumbar secara terstruktur. Tahap tanggap darurat dilaksanakan pada 27 November 2025 hingga 5 Januari 2026, dengan fokus pada penyediaan relawan kesehatan, layanan psikososial, logistik, serta penyelenggaraan masjid darurat. Keterlibatan berbagai unsur seperti MPKU, Lazismu, MDIKTILITBANG, MPKS, Majelis Tabligh, dan LDK menjadi bagian penting dalam fase ini.
Selanjutnya, fase transisi darurat ke pemulihan berlangsung pada 6–31 Januari 2026, yang diarahkan pada asesmen sekolah terdampak, pendidikan darurat, serta keberlanjutan layanan kesehatan dan psikososial. Adapun tahap rehabilitasi dan rekonstruksi direncanakan pada Februari hingga Juli 2026, mencakup rehabilitasi dan rekonstruksi sekolah, pemulihan pascabencana, serta penguatan program pemberdayaan masyarakat.
Haedar menegaskan bahwa di tengah situasi bencana, soliditas dan kepedulian sosial menjadi kunci utama.
“Mari kita mengulurkan bantuan untuk saudara-saudara kita, mau lewat apapun sehingga ada semangat berbagi. Jangan hanya membahas banjir tanpa ada kepedulian,” katanya.
Ajakan ini menjadi penegasan bahwa gerakan kemanusiaan Muhammadiyah tidak berdiri parsial, melainkan kolektif, terorganisir, dan melibatkan seluruh institusi sebagai wujud nyata Islam berkemajuan yang hadir untuk umat dan kemanusiaan.


