KabarMu- Masjid biasanya identik dengan ketenangan dan aktivitas ibadah ritual semata. Namun, di tengah kawasan pabrik Buduran, Sidoarjo, berdiri sebuah masjid yang tidak memiliki tetangga warga perumahan, namun justru paling “berisik” gaungnya di jagat maya.
Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran, namanya. Masjid ini kerap wara-wiri di beranda media sosial (FYP), bahkan masuk dalam top of mind masjid paling viral secara nasional. Apa rahasianya? Apakah ada kekuatan supranatural di baliknya?
Dalam sebuah podcast spesial di channel YouTube Majelis Tabligh PDM Sidoarjo, rahasia dapur masjid ini dibongkar tuntas. Bersama Ustadz Bayu Firdaus selaku Takmir Muda dan tim Ar-Royyan Youth Squad, terungkap bahwa mereka memiliki ‘Karomah’ tersendiri.
Bukan karomah dalam artian ‘dongeng’ berjalan di atas air atau terbang di angkasa, melainkan sebuah manifestasi dari pepatah arab: “Al-Istiqāmah khairun min alfi karāmah” — Istiqamah (konsisten mengerjakan kebaikan) itu lebih baik daripada seribu karomah.
Karomah Itu Bernama “Istiqamah dalam Keterbatasan”
Ustadz Bayu Firdaus, salah satu punggawa Takmir Muda Masjid Ar-Royyan, dalam podcast tersebut menceritakan bahwa perjalanan masjid ini tidak dimulai dari karpet merah. Mereka memulai dari kondisi “minus”. Dana terbatas, tenaga sedikit, namun mereka memiliki satu senjata: Konsistensi.
Dalam video tersebut, Ustadz Bayu menekankan bahwa keajaiban masjid ini lahir dari komitmen untuk terus bergerak (istiqamah) walau keadaan sunyi. Ia mengenang momen-momen awal di mana kegiatan bersih-bersih masjid tetap dilakukan meski hanya segelintir orang yang datang.
“Gerakan yang bisa istikamah sampai di bulan kelima ini adalah… kerja bakti setiap Kamis malam Jumat. Itu adalah gerakan istikamah dari sebelum Ramadan sampai sekarang. Pernah kita cuma tiga orang juga pernah ya, tiga orang, dua orang pernah… Namun itu sengaja (kita jaga), bagaimana caranya istikamah itu,” ungkap Ustadz Bayu.
Inilah “Karomah” yang sesungguhnya. Keteguhan hati untuk tetap memakmurkan rumah Allah, baik saat ramai maupun saat sepi, baik saat viral maupun saat merintis dari nol (bahkan minus). Dari istiqamah inilah, Allah kemudian membukakan pintu-pintu kemudahan yang tidak masuk akal, mulai dari donatur yang tak dikenal hingga konten yang meledak di media sosial.
Baca Juga: Masjid Ar-Royyan Buduran: Hidden Gem Para Musafir di Lingkar Timur Sidoarjo
Melawan Stigma dengan “6I” dan Mobile Legends
Selain istiqamah, ‘karomah’ lain dari masjid ini adalah kemampuan mereka membaca zaman. Takmir muda Ar-Royyan sadar bahwa pemuda tidak bisa didekati dengan cara kaku. Mereka mengubah wajah masjid menjadi tempat yang asyik dengan fasilitas “6I”:
-
Wi-Fi: Untuk yang butuh koneksi.
-
Kopi: Gratis dan selalu tersedia.
-
Nasi: Makan gratis (program Jumat Berkah & Bazar).
-
Gaji: Memperhatikan kesejahteraan marbot/relawan.
- Rekreasi: Program refreshing dan outing bersama bagi marbot dan relawan sebagai wujud apresiasi.
-
Istri: (Ini yang menarik!) Berikhtiar mencarikan jodoh yang satu visi dalam memakmurkan masjid.
Bahkan, mereka berani mengadakan turnamen Mobile Legends di dalam lingkungan masjid. Syaratnya sederhana: saat azan berkumandang, permainan dihentikan dan semua peserta wajib salat berjamaah. Hasilnya? Anak-anak muda yang awalnya takut ke masjid karena merasa “kurang sholeh”, kini menjadikan masjid sebagai rumah kedua mereka.
Saldo Nol Rupiah: Bentuk Tawakkal Tingkat Tinggi
Salah satu bukti “keramat”-nya manajemen masjid ini adalah keberanian mereka menerapkan sistem Saldo Nol Rupiah. Setiap hari Jumat, mereka mengumumkan bahwa kas masjid adalah Rp 0.
Mengapa? Karena bagi mereka, dana umat harus segera disalurkan untuk kemaslahatan umat, bukan ditimbun di rekening. Mulai dari membagikan ribuan porsi makanan hingga layanan musafir 24 jam. Ajaibnya, meski pengeluaran besar-besaran, operasional masjid (listrik, air, dll) selalu tertutup oleh rezeki yang datang dari arah tak disangka-sangka—sebuah bukti nyata janji Allah dalam Surat At-Taubah ayat 18 yang menjadi pegangan mereka.
Kisah Masjid Ar-Royyan Buduran mengajarkan kita bahwa untuk menjadi “viral” dan mendapatkan pertolongan Allah, kita tidak butuh kesaktian. Kita hanya butuh kesungguhan.
Seperti yang disampaikan Ustadz Bayu Firdaus, kuncinya adalah terus berproses dan bertahan. Jika hari ini kita melihat Masjid Ar-Royyan begitu megah di media sosial, itu adalah buah dari pohon istiqamah yang ditanam dengan penuh peluh dan air mata oleh para pemudanya. Itulah karomah yang sesungguhnya.


