Simpan Sekarang Kembali

Gerakan Ber-KTAM, Berideologi dan Berkomitmen Bersama Persyarikatan

Gerakan Ber KTAM, Berideologi dan Berkomitmen Bersama Persyarikatan

OpiniMu – Belakangan ini, ruang media sosial warga Muhammadiyah diramaikan oleh satu fenomena yang menarik untuk direnungi bersama. Sejumlah warga Muhammadiyah mengunggah Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah (KTAM) sebagai bentuk solidaritas dan penegasan identitas, menyusul adanya peristiwa tahdzir terhadap seorang ustadz yang sebelumnya dinilai terafiliasi dengan kelompok salah fikir—kelompok yang merasa paling benar, paling suci, dan memandang rendah sesama muslim yang berbeda  ijtihad, maupun metode dakwah.

Bagi warga ideologis Muhammadiyah, fenomena tahdzir semacam ini sejatinya bukan hal baru. Ia hadir silih berganti dalam sejarah umat, dengan wajah dan nama yang berbeda. Karena itu, sikap reaktif, emosional, apalagi saling menyalahkan, bukanlah jalan yang mencerminkan kedewasaan berpikir. Reaksi berlebihan justru berpotensi menyempitkan hati, mengaburkan kejernihan nalar, serta mengalihkan fokus amal dari kerja-kerja nyata yang lebih maslahat.

Muhammadiyah sejak awal tidak dibangun di atas energi konflik. Ia lahir dari ketenangan iman, keluasan ilmu, dan konsistensi amal. Dari semangat itulah dakwah Persyarikatan tumbuh—bukan dengan gaduh, melainkan dengan memberi solusi.

KTAM dan Makna Komitmen Berorganisasi

Fenomena unggahan KTAM sejatinya bukan sekadar soal kartu anggota. Ia mencerminkan kegelisahan sekaligus kesadaran kolektif bahwa Muhammadiyah bukan hanya organisasi administratif, melainkan sebuah gerakan ideologis yang berakar kuat pada nilai-nilai Islam yang mencerahkan, memajukan, dan mempersatukan umat.

Secara formal, KTAM adalah kartu tanda keanggotaan yang memuat Nomor Baku Muhammadiyah (NBM). Ia menjadi penanda keanggotaan resmi sekaligus wujud komitmen warga Persyarikatan untuk turut berkontribusi, termasuk melalui iuran wajib yang dikelola secara amanah. Iuran ini bukan sekadar angka administratif, melainkan energi kolektif untuk menjaga keberlangsungan amal usaha, menguatkan dakwah, serta menopang cita-cita besar Muhammadiyah dalam membangun peradaban Islam yang berkemajuan.

Namun, memahami KTAM hanya sebagai kartu administratif jelas tidak cukup. Ia harus dipahami sebagai bagian dari kesadaran berorganisasi—kesadaran untuk ikut memikul tanggung jawab dakwah, bukan sekadar menikmati hasilnya.

Sebelum Kartu, Ada Amal yang Mengakar

Penting untuk diingat, jauh sebelum sistem administrasi tertata rapi, warga Muhammadiyah telah mengakar dalam tradisi beramal. Sekolah didirikan, rumah sakit dibangun, masjid dimakmurkan, fakir miskin disantuni, dan umat diberdayakan—sering kali tanpa bertanya apakah seseorang telah memegang KTAM atau belum.

Amal menjadi napas, bukan syarat administratif. Inilah kekuatan kultural Muhammadiyah yang menjadikan Persyarikatan ini hidup di tengah umat. Tradisi inilah yang membuat Muhammadiyah diterima luas, karena dakwahnya hadir sebagai solusi, bukan sekadar identitas.

Karena itu, keberadaan KTAM tidak boleh memutus ingatan kolektif ini. Administrasi harus menguatkan amal, bukan menggantikannya.

Beragam Wajah KTAM di Akar Rumput

Di berbagai daerah, pengurusan KTAM memiliki wajah yang beragam. Ada yang mengurusnya sebagai syarat kepegawaian di Amal Usaha Muhammadiyah, keperluan administrasi kelulusan sekolah, kenaikan jabatan, atau momentum musyawarah pemilihan pimpinan. Tidak sedikit pula yang menjadikannya sekadar formalitas, tanpa disertai penghayatan ideologi dan tanggung jawab keumatan.

Fenomena ini bukan untuk dihakimi, melainkan dibaca sebagai tantangan kaderisasi. Jangan sampai KTAM berhenti sebagai kartu, sementara ruh ideologi dan komitmen justru tertinggal. Persyarikatan tidak kekurangan kartu anggota, tetapi bisa kekurangan kesadaran ideologis jika hal ini dibiarkan.

Baca Juga: Cara Membuat E-KTA Muhammadiyah Lewat Aplikasi MASA

KTAM sebagai Simbol, Bukan Tujuan

Sejatinya, KTAM adalah simbol—bukan tujuan. Ia menandai ikatan ideologis dengan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah, dengan watak tajdid (pembaruan).

Sejatinya, KTAM adalah simbol—bukan tujuan. Ia adalah penanda ikatan ideologis dengan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah, dengan watak tajdid (pembaruan). Muhammadiyah hadir untuk menegakkan agama Islam secara murni dan berkemajuan, membangun masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, serta menjalankan dakwah amar ma’ruf nahi munkar di seluruh dimensi kehidupan: pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, budaya, dan kebangsaan.

Jika KTAM dilepaskan dari makna ini, ia akan kehilangan esensinya.

Manhaj Muhammadiyah: Wasathiyah, Tajdid dan Berkemajuan

Ber-KTAM seharusnya bermakna berideologi. Berideologi berarti memahami dan menghayati manhaj Muhammadiyah yang wasathiyah, rasional, berkemajuan, serta menjunjung tinggi ilmu dan akhlak.

Muhammadiyah tidak dibangun di atas sikap takfiri, eksklusif, atau merasa paling benar. Persyarikatan ini tumbuh dari tradisi berpikir jernih, dialogis, dan berorientasi pada kemaslahatan umat. Dakwahnya tidak dilandasi kebencian, melainkan pencerahan. Tidak bertumbuh dari caci maki, tetapi dari keteladanan dan kerja nyata.

Di sinilah ber-KTAM diuji: apakah ia benar-benar membentuk cara berpikir dan bersikap, atau sekadar identitas yang ditampilkan saat dibutuhkan.

Setia Tanpa Fanatisme, Teguh Tanpa Merendahkan

Lebih jauh, ber-KTAM juga berarti berkomitmen. Komitmen untuk setia pada Persyarikatan tanpa terjebak fanatisme sempit. Komitmen untuk menjaga adab dalam perbedaan, merawat ukhuwah Islamiyah, serta berkontribusi sesuai kemampuan—baik dengan tenaga, pikiran, waktu, maupun harta.

Komitmen ini juga berarti menahan diri agar tidak menyeret Muhammadiyah ke dalam pusaran konflik sempit, apalagi menjadikannya alat pembenar untuk merasa paling benar di hadapan sesama muslim dan manusia.

Fenomena unggahan KTAM di media sosial hendaknya tidak berhenti sebagai reaksi emosional sesaat. Ia seharusnya menjadi momentum muhasabah kolektif: sejauh mana nilai-nilai Muhammadiyah benar-benar hidup dalam perilaku digital kita? Apakah media sosial kita menjadi ruang pencerahan, atau justru memperlebar jurang perpecahan?

NBM, Digitalisasi, dan Ekosistem Persyarikatan

Memahami KTAM sebagai simbol ideologi dan komitmen bukan berarti pengurusannya tidak penting. Justru di era digital, KTAM menjadi semakin strategis. Melalui Nomor Baku Muhammadiyah (NBM), potensi warga Persyarikatan dapat diintegrasikan dalam satu ekosistem yang lebih tertib—mulai dari data keanggotaan, kaderisasi, amal usaha, hingga dakwah dan gerakan sosial.

Baca Juga: Cara Membuat E-KTA Muhammadiyah Lewat Aplikasi MASA

KTAM menjadi fondasi tata kelola Muhammadiyah yang lebih rapi, akuntabel, dan berdampak. Ia bukan sekadar kartu administratif, melainkan pintu masuk untuk menghubungkan kekuatan jamaah agar manfaat Persyarikatan semakin luas dan berkelanjutan.

Menjadi Warga Persyarikatan Sejati, Bukan Sekadar Pemegang Kartu

Pada akhirnya, Muhammadiyah tidak membutuhkan sekadar kartu yang ditunjukkan, tetapi warga dan kader yang menghadirkan Islam sebagai rahmat. Ber-KTAM, berideologi, dan berkomitmen adalah satu kesatuan jalan—jalan untuk terus menyalakan cahaya pencerahan, merawat persatuan umat, dan mengokohkan Muhammadiyah sebagai rumah besar dakwah Islam yang berkemajuan.

Share: